You are currently viewing Memperkuat Pilar Biodiversitas, Geopark Natuna Akselerasi Perlindungan Kekah Natuna Menuju UGGp

Memperkuat Pilar Biodiversitas, Geopark Natuna Akselerasi Perlindungan Kekah Natuna Menuju UGGp

  • Post author:
  • Post category:Berita

Badan Pengelola Geopark Nasional (BPGN) Natuna terus bergerak masif dalam memenuhi kriteria penilaian aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp). Salah satu langkah strategis yang kini tengah diakselerasi adalah penguatan pilar keanekaragaman hayati (biodiversity) melalui perlindungan intensif terhadap primata endemik Natuna, yakni Kekah Natuna (Presbytis natunae).

Komitmen ini ditegaskan kembali oleh BPGN Natuna dan Pemerintah Daerah dalam agenda menerima audiensi dari jajaran peneliti internasional dan pegiat konservasi di Ruang Kerja Bupati, Selasa (19/5/2026). Hadir dalam pertemuan tersebut Dr. Andie Ang dari Mandai Nature Singapore, Ng Bee Choo (peneliti flora asal Singapura), Emilia Ayu Dewi K. (Founder Bilaku/Direktur Politeknik Bintan Cakrawala), serta Ahdiani dari Yayasan Mantau Kekah Natunae. Sementara dari BPGN Natuna dan Pemda dipimpin langsung oleh Bupati Natuna Cen Sui Lan, Sekda Boy Wijanarko dan Wakil Ketua 1 BPGN Natuna Moestofa Albakry.

Bupati Nagtuna bersama Peneliti

Bagi Geopark Natuna, kehadiran para pakar global ini merupakan momentum penting untuk memperluas jejaring kerja sama internasional demi mempertahankan ekosistem kawasan. Dalam audiensi tersebut, diserahkan dokumen Asian Langurs (Presbytis) Conservation Action Plan 2024–2034 dari IUCN (International Union for Conservation of Nature). Dokumen strategis ini akan dijadikan sebagai salah satu peta jalan (roadmap) pengelola Geopark dalam menyusun kebijakan konservasi satwa yang terukur dan diakui dunia.

Manajemen Geopark Natuna menegaskan bahwa esensi dari sebuah tekad menuju status UNESCO Global Geopark bukan sekadar menonjolkan keunikan warisan geologi (geodiversity). Berdasarkan standar UNESCO, pembangunan kawasan harus mengintegrasikan hubungan yang harmonis antara aspek geologi, keanekaragaman hayati (biodiversity), serta warisan budaya (cultural diversity).

Kekah Natuna yang saat ini berstatus Vulnerable (Rentan) berdasarkan daftar merah IUCN merupakan simbol sekaligus indikator utama kesehatan ekosistem di kawasan Geopark. Penurunan populasi yang terjadi di alam liar menjadi alarm bagi pengelola untuk mengambil tindakan nyata.

Sebagai wujud konkret perlindungan habitat tersebut, kawasan konservasi seluas 39 hektare telah ditetapkan di Desa Harapan Jaya melalui kolaborasi erat dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan komunitas lokal. Langkah ini diperkuat dengan suksesnya penyelenggaraan “Kekah Day: Bicara, Bergerak, Berkolaborasi” pada 18 Mei 2026 lalu di Desa Mekar Jaya, sebagai bagian dari program edukasi publik guna menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat lokal terhadap warisan alam mereka.

Melalui momentum ini, Geopark Natuna ingin mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa proses menuju UGGp dijalankan di atas fondasi kelestarian jangka panjang. Penguatan regulasi, perlindungan habitat flora dan fauna, serta pelibatan aktif peneliti multinasional membuktikan bahwa Geopark Natuna tidak hanya siap secara dokumen administratif, tetapi juga matang dalam implementasi konservasi di lapangan.

Sinergi berkelanjutan antara jajaran pemerintah daerah, lembaga riset internasional, dan masyarakat adat diharapkan mampu memantapkan posisi Natuna sebagai destinasi dunia yang tangguh dalam menjaga keanekaragaman hayatinya demi warisan generasi masa depan.