Pengurus Badan Pengelola Geopark Nasional (BPGN) Natuna kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pilar edukasi kebumian dengan memfasilitasi kegiatan studi lapangan geologi bagi para siswa jurusan Teknik Produksi Migas (TPM) SMKN 1 Bunguran Timur Laut pada Rabu (2/9/2026). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman teknis siswa mengenai ilmu kebumian yang memiliki keterkaitan erat dengan potensi hidrokarbon di kawasan Natuna.

Rangkaian studi lapangan diawali dengan kunjungan ke Pusat Informasi Geopark (PIG). Di lokasi ini, para siswa menerima pembekalan materi secara komprehensif dari pemandu PIG mengenai sejarah geologi Natuna, pembentukan struktur batuan, hingga peran penting geodiversitas wilayah tersebut terhadap keberadaan potensi migas. Para siswa juga mendapat penjelasan mengenai Geopark Natuna secara umum.
Eksplorasi kemudian dilanjutkan menuju lokasi pengamatan lapangan, yakni Geosite Pulau Akar dan Geosite Batu Kasah. Di Geosite Pulau Akar, para peserta mengamati secara langsung singkapan batuan beku tertua di Natuna yang dikenal sebagai pillow lava (lava bantal). Lava bantal dari batuan ultramafik ini merupakan batuan tertua yang tersingkap di Natuna. Lalu kemudian, perjalanan dilanjutkan ke Geosite Batu Kasah untuk mempelajari karakter batuan beku jenis granit.

Secara geologis, keberadaan Geosite Pulau Akar dan Batu Kasah merupakan “bukti kunci” dari keberadaan Natuna Arch (Punggungan Natuna). Struktur geologi ini membagi kawasan menjadi dua cekungan utama, yaitu Cekungan Natuna Barat dan Cekungan Natuna Timur, yang keduanya dikenal kaya akan cadangan hidrokarbon.
Pengalaman belajar langsung di alam ini memberikan kesan mendalam bagi para peserta. Haikal, ketua kelas X jurusan Teknik Produksi Migas SMKN 1 BTL, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru yang sangat relevan dengan disiplin ilmu yang sedang ditempuhnya.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami bisa melihat dan memahami secara langsung struktur batuan yang menjadi dasar teori di sekolah. Ini sangat menambah ilmu dan wawasan yang berkaitan erat dengan jurusan kami,” tutur Haikal.

Melalui fasilitasi ini, Pengurus BPGN Natuna berharap geosite-geosite yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai laboratorium alam interaktif bagi lembaga pendidikan lokal, sekaligus mencetak generasi muda Natuna yang memahami serta melestarikan warisan geologi daerahnya.
