Geopark Natuna berhasil memaparkan konsep Geopark Natuna sebagai Model Pariwisata Regeneratif Berbasis Konservasi, Edukasi, dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan Destinasi Pariwisata Regeneratif Kepulauan Riau yang digelar Direktorat Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital (PEKED) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas bekerja sama dengan Bank Dunia. Wakil Ketua 1 Badan Pengelola Geopark Nasional (BPGN), Moestofa Albakry, S.E., M.A.P, menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan yang berlangsung pada 20–22 Juli 2026 di Four Points by Sheraton Bintan, Lagoi Bay, Kabupaten Bintan – Kepri ini menjadi forum strategis untuk menyamakan persepsi dan mendalami penerapan prinsip pariwisata regeneratif di tiga destinasi prioritas nasional, termasuk Kepulauan Riau.

“Pariwisata regeneratif ini merupakan “kakaknya” pariwisata berkelanjutan, di Indonesia ada 3 yang ditetapkan, Bali, DKI Jakarta, dan Kepri. Nah di Kepri ada 3 lokasi yang ditetapkan sebagai Key Tourism Area (KTA) nya, yakni Batam, Bintan, dan Natuna” terang Moestofa yang juga merupakan Kepala Bapperida itu.
Dalam sesi paparan yang berlangsung Selasa, 22 Juli 2026, Wakil Ketua 1 BPGN Natuna menekankan bahwa Geopark Natuna bukan sekadar kawasan warisan geologi, melainkan model hidup yang mengintegrasikan pelestarian alam, edukasi, dan kesejahteraan masyarakat lokal.
“Geopark Natuna memiliki potensi luar biasa dari sisi warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya Melayu. Melalui pendekatan regeneratif, kami berkomitmen melindungi geosite, ekosistem pesisir, serta keanekaragaman hayati, sekaligus mengendalikan pemanfaatan ruang dan aktivitas wisata agar berdampak positif bagi alam dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan prinsip konservasi yang ketat, termasuk perlindungan geosite prioritas seperti Gunung Ranai, Pulau Senua, Batu Kasah, dan Tanjung Senubing, serta upaya restorasi mangrove dan pemberdayaan komunitas lokal melalui geotourism berbasis kearifan lokal.
FGD ini dihadiri lintas sektor, mulai dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, hingga mitra pembangunan. Sedangkan romobngan dari Natuna diikuti oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ferizaldy; Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata, Kardiman; Kepala Bidang PPKLH Dinas Lingkungan Hidup, Harmidi. Forum ini diharapkan menghasilkan masukan konkret bagi penyusunan kebijakan dan program prioritas pengembangan destinasi pariwisata regeneratif Kepulauan Riau sesuai amanat RPJMN 2025–2029.
Keberhasilan paparan Geopark Natuna di forum nasional ini semakin memperkuat posisi Kabupaten Natuna sebagai salah satu pilar utama pengembangan pariwisata bahari dan ekonomi biru di wilayah perbatasan Indonesia. Terlebih saat ini, Geopark Natuna sedang mempersiapkan diri menuju UNESCO Global Geopark (UGGP) setelah beberapa waktu yang lalu dinyatakan lulus dalam seleksi kandidat asipiring UGGp.
Dengan semangat kolaborasi pentahelix, Geopark Natuna terus berkomitmen menjadi destinasi yang tidak hanya indah untuk dikunjungi, tetapi juga mampu memulihkan ekosistem, memperkuat identitas budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (RN)
