Natuna terletak di bagian tengah Sundaland, sebuah terrane komposit yang terbentuk dari amalgamasi fragmen kerak sejak Trias. Selama Mesozoikum, tepi timur Sundaland mengalami subduksi lempeng Palaeo-Pasifik yang menghasilkan busur magmatik Andean-type yang luas, ophiolit, dan kompleks akresi yang membentang dari Borneo melalui Vietnam hingga Tiongkok. Banyak bagian kompleks ini kini tenggelam di bawah Laut Cina Selatan, sehingga Natuna menjadi paparan penting yang menghubungkan sejarah magmatisme di utara (Vietnam–Indochina) dan selatan (Borneo).
Zirkon warisan (inherited zircons) dalam batuan Natuna mengungkapkan keberadaan kerak berumur Trias hingga Jura Awal di bawah pulau ini. Hal ini menandakan bahwa busur magmatik sudah aktif sejak Early Jurassic. Busur Early Jurassic tersebut telah tererosi hampir sepenuhnya, sehingga produk magmatismenya tidak lagi tersingkap di permukaan.
Pada Middle–Late Jurassic terjadi slab roll-back yang menyebabkan ekstensi di zona fore-arc. Proses ini menghasilkan:
- Pulau Tiga Ophiolite (gabbro, basalt, dan batuan ultramafik yang tersebar di pantai barat Natuna dan kepulauan Pulau Tiga).
- Pengendapan chert dan siltstone dari Formasi Bunguran yang berasosiasi dengan ophiolit tersebut.
Ophiolit ini terbentuk dalam setting supra-subduction zone dan merupakan bagian dari Natuna Accretionary Complex.
Pada Late Jurassic–Early Cretaceous terjadi slab flattening (pendataran slab) yang mendorong magmatisme I-type secara regional di sepanjang tepi Palaeo-Pasifik. Namun, produk magmatisme ini tidak tersingkap di Natuna hingga Kapur Akhir.
Dua fase magmatisme granitoid tercatat di Natuna:
- 85–86 Ma: Granodiorit dan granit porfiritik tipe I/S. Magma mantle naik dan sebagian terkontaminasi oleh kerak busur yang sudah ada sebelumnya.
- 71–75 Ma: Granit tipe I/S yang mencerminkan penebalan kerak (crustal thickening) dan kontaminasi yang lebih intens dari pelelehan parsial kerak.
Periode penebalan kerak ini menandai akhir subduksi Palaeo-Pasifik di bawah tepi timur Sundaland. Akibatnya terjadi:
- Kompresi di zona fore-arc,
- Obduksi ophiolit,
- Pembentukan Natuna Accretionary Complex di sepanjang Lupar Line.
Granit Ranai (yang membentuk Gunung Ranai dan tor-tor granit di pantai timur) adalah produk utama fase ini. Usia K–Ar sebelumnya (71–100 Ma) diperbarui dan dipertegas oleh data U–Pb zirkon yang lebih akurat.
Setelah Kapur Akhir, batuan basement Mesozoikum Natuna tertutup secara tidak selaras oleh sedimen silisiklastik Oligo-Miosen (Formasi Pengadah) dan Plio-Pleistosen (Formasi Raharjapura).
—– —– —–
Gagasan awal mengenai keunikan geologi Natuna muncul pada periode 2014–2016. Pada masa itu, tim Litbang Geologi Bandung melakukan kajian mendalam di wilayah Natuna. Hasil kajian menyimpulkan bahwa Natuna memiliki keunikan geologi yang sangat menonjol, khususnya di wilayah laut (Marine Geology), yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Saat itu konsep geopark masih relatif baru dan belum populer, sehingga usulan pengembangan sebagai daya tarik daerah belum mendapat perhatian luas.
Secara geologis, Natuna memiliki bebatuan purba berusia hingga 200 juta tahun yang berasal dari kerak samudra, kerak benua, dan sungai purba. Dari sisi hayati, primata endemik Kekah Natuna (Presbytis natunae) yang hanya ditemukan di Pulau Bunguran menjadi ikon penting. Sementara kekayaan budaya tercermin dari tradisi Mendu, kesenian Alu, dan berbagai kuliner tradisional yang telah diakui secara nasional.
Penetapan formal terjadi pada 29 November 2018. Komite Nasional Geopark Indonesia menetapkan wilayah Natuna sebagai Geopark Nasional dengan nama “Geopark Natuna”. Menariknya, menurut keterangan pejabat daerah, usulan penetapan ini secara unik didorong oleh Kementerian Luar Negeri (bukan semata prakarsa Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna). Latar belakangnya bersifat geopolitik: posisi strategis Natuna di Laut Natuna Utara membuat penetapan sebagai Geopark Nasional dianggap sebagai salah satu cara untuk memperkuat perlindungan wilayah dari ancaman eksternal.
Setelah penetapan, Pemerintah Kabupaten Natuna membentuk Badan Pengelola Geopark Natuna (BPGN) yang terdiri dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan beberapa kalangan profesional. Pada April 2022, Ketua BPGN juga membentuk Natuna Geopark Youth Forum (NGYF) sebagai wadah partisipasi pemuda, sesuai arahan Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 15 Tahun 2020 tentang Rencana Aksi Nasional Pengembangan Geopark 2021–2025.
Geopark Natuna memiliki luas sekitar 141.901,02 hektar yang mencakup 13 kecamatan dan 75 desa/kelurahan. Saat ini terdapat 15 lokasi warisan geologi, di antaranya yang ditetapkan sebagai geosite utama adalah: Tanjung Datuk, Gunung Ranai, Tanjung Senubing, Pulau Senua, Batu Kasah, Pulau Akar, dan Pulau Setanau.
