You are currently viewing Aksi Penanaman Terumbu Karang Massal di Geosite Pulau Senua Perkuat Pilar Konservasi Geopark Natuna Menuju UGGp

Aksi Penanaman Terumbu Karang Massal di Geosite Pulau Senua Perkuat Pilar Konservasi Geopark Natuna Menuju UGGp

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Berita

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-27 Kabupaten Natuna, komunitas selam bersama warga melaksanakan aksi penanaman terumbu karang massal di Pulau Senua, Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya penguatan pilar konservasi Geopark Natuna yang sedang dalam proses menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Lembaga Pengelola Sumber Daya Pesisir (LPSDP) Natuna, Natuna Dive Centre (NDC), Natuna Freediving Club (NFC), dan Badan Pengelola Geopark Nasional (BPGN) Natuna. Aksi ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Natuna serta para adopter (donatur) baik individu maupun lembaga.

Ketua LPSDP Natuna, Cherman, menyampaikan bahwa target penanaman sebanyak 300 fragmen karang terealisasi 239 fragmen, yang berarti melibatkan 239 adopter. “Artinya gerakan kali ini melibatkan lebih dari dua ratus orang, baik yang terlibat secara langsung maupun sebagai adopter. Setiap fragmen yang diadopsi adalah komitmen personal untuk menjaga laut Natuna,” ujarnya.

Sebanyak 23 penyelam dari komunitas dan relawan terlibat dalam penanaman, didukung Natuna Dive Centre, Natuna Dive Resort, serta komunitas freediving.

Pulau Senua sebagai Geosite Strategis

Pulau Senua dipilih karena merupakan salah satu geosite resmi Geopark Nasional Natuna yang ditetapkan sejak 30 November 2018. Pulau seluas 15 hektar yang terletak di koordinat 4°0’48” LU – 108°25’4″ BT ini memiliki peran penting dalam sistem geopark bersama beberapa situs warisan geologi lainnya di dalam kawasan Geopark Natuna, yaitu Gunung Ranai, Batu Kasah, Pulau Akar, Pulau Setanau, Senubing, Tanjung Datuk, Gunung Gundul, Bukit Kapur, Tanjung Ba’dai, Sekunyam, dan Air Mali.

Sebagai geosite, Pulau Senua wajib dikelola secara konservatif, berkelanjutan, dan berdampak ekonomi. Berdasarkan kajian IPB University, terumbu karang di kawasan ini memiliki tutupan yang bervariasi dari kategori rusak hingga baik, didominasi karang non-acropora. Di perairannya teridentifikasi 1.133 ekor ikan karang dari 75 spesies dan 20 famili, dengan daya dukung wisata selam mencapai 26,97 hektar.

“Pulau Senua adalah geosite yang wajib dikelola secara konservatif, berkelanjutan, dan berdampak ekonomi. Ekosistem ekonomi berkelanjutan harus berbasis konservasi dan dikelola oleh pengelola yang berjiwa konservatif,” tegas Cherman.

Konservasi sebagai Pilar Menuju UNESCO Global Geopark

Pembangunan taman karang (coral garden) di Pulau Senua tidak sekadar seremoni peringatan HUT. Gerakan massal ini dirancang sebagai landasan penyusunan rencana kerja pengelolaan Geosite Pulau Senua sekaligus langkah konkret memperkuat pilar konservasi Geopark Natuna. Taman karang ini diproyeksikan memberikan 14 manfaat strategis yang mencakup aspek ekologi, ekonomi-sosial, dan strategis.

Dari sisi ekologi, taman karang diharapkan memperbaiki terumbu yang rusak, melindungi ekosistem yang masih sehat, menjadi benteng bagi penyu, mencegah abrasi, serta menjadi lumbung dan tempat pemijahan ikan. Dari sisi ekonomi dan sosial, kawasan ini berpotensi menjadi destinasi wisata bahari unggulan yang mendorong pertumbuhan UMKM, jasa, transportasi, pendidikan, dan penelitian. Sementara dari sisi strategis, pengelolaan yang baik akan memperkuat nilai Geopark Natuna dan menjadi pendorong utama agar Geopark Natuna berhasil lolos menjadi UNESCO Global Geopark.

Proses penanaman terumbu karang. (Dok: Cherman)

“Jika geosite dikelola dengan baik, perekonomian berbagai sektor akan tumbuh. Sektor pariwisata sangat bergantung pada kegiatan konservasi ini,” pungkas Cherman.

Puncak peringatan HUT Ke-27 Kabupaten Natuna digelar pada 12 Oktober 2026, tepat 27 tahun sejak dimekarkan berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999. Di usia ke-27 ini, Natuna membutuhkan aksi nyata yang berdampak jangka panjang. Aksi penanaman terumbu karang di Geosite Pulau Senua menjadi salah satu wujud kolaborasi multi pihak untuk memperkuat konservasi sebagai fondasi pengembangan Geopark Natuna menuju pengakuan internasional sebagai UNESCO Global Geopark.